Saturday, June 13, 2009

Mengapa Terjadi Gancet??

Istilah ini (Gancet) dalam dunia kedokteran dikenal dengan Istilah vaginismus

Istilah vaginismus nyaris tidak pernah disebut, tidak saja oleh media massa tetapi juga oleh kalangan dokter pada umumnya. Karena itu istilah ini tidak dikenal oleh masyarakat, padahal tidak sedikit wanita yang menderita karena mengalami disfungsi seksual ini.

Paling sedikit ada dua alasan mengapa disfungsi seksual ini nyaris tidak pernah disebut. Pertama, istilah ini memang sangat khusus untuk suatu disfungsi seksual sehingga sangat sedikit kalangan dokter yang mengetahui. Kedua, wanita yang mengalaminya enggan mengungkapkan masalahnya.

Vaginismus dapat dianggap sebagai akibat akhir dari semua disfungsi seksual yang terjadi pada wanita. Pada keadaan ini muncul reaksi fisik dan psikis sebagai bentuk penolakan, bukan hanya terhadap hubungan seksual, bahkan terhadap sentuhan pada bagian kelamin. Akibatnya, hubungan seksual tidak mungkin dilakukan.


Apa pengertian vaginismus?

Vaginismus ialah suatu disfungsi seksual pada wanita yang berupa kekejangan abnormal otot vagina sepertiga bagian luar dan sekitar vagina. Tetapi wanita dengan vaginismus tetap mempunyai dorongan seksual yang normal.

Vaginismus adalah suatu reaksi psikofisiologis yang dapat dialami oleh wanita dari berbagai golongan usia, mulai dan usia ketika pertama kali melakukan hubungan seksual sampai usia tua. Derajat kekejangan yang terjadi tidak sama pada setiap orang yang mengalami vaginismus.

Kekejangan abnormal yang terjadi pada vaginismus seakan-akan merupakan suatu reaksi penolakan terhadap hubungan seksual, bahkan terhadap setiap sentuhan pada kelamin. Reaksi penolakan tampak jelas dari luar karena wanita dengan vaginismus cenderung merapatkan kedua tungkainya bila terjadi sentuhan pada bagian kelamin. Diduga sekitar 2-3% wanita dewasa mengalami vaginismus.




Apa penyebabnya?

Vaginismus dapat disebabkan oleh faktor fisik ataupun psikis. Beberapa faktor fisik ialah:
• Gangguan selaput dara, termasuk sisanya yang tertarik kalau terjadi penetrasi penis.
• Infeksi yang menimbulkan luka di sekitar lubang vagina atau labia.
• Bekas robekan karena melahirkan yang tidak sembuh dengan baik.

Penyebab fisik ini dapat menimbulkan vaginismus sebagai suatu refleks yang bersifat protektif terhadap rasa sakit yang timbul.
Tetapi penyebab psikis lebih sering berperan untuk terjadinya vaginismus. Beberapa sebab psikis adalah:
• Latar belakang keluarga yang memandang seks sebagai sesuatu yang kotor, dosa atau memalukan. Jadi wanita itu dibesarkan dengan anggapan bahwa seks adalah sesuatu yang negatif.
• Pengalaman seksual yang traumatik, misalnya wanita yang mengalami perkosaan baik pada masa anak-anak, remaja maupun dewasa. Kalau pengalaman yang mengerikan itu terjadi setelah wanita menikah, dapat juga terjadi vaginismus sekunder.
• Hubungan seksual yang selalu menimbulkan rasa nyeri karena sebab psikis. Disfungsi ereksi juga dapat menjadi penyebab.
• Rasa takut yang berlebihan akan terjadinya kehamilan.
• Rasa takut terkena penyakit kelamin.


Apa akibatnya?

Akibat kekejangan otot vagina sepertiga bagian luar, maka hubungan seksual tidak dapat berlangsung. Bahkan penis terasa seperti membentur sebuah penahan yang seolah-olah menutup bagian lubang vagina. Andaikata penetrasi penis dapat dilakukan, itu pun tidak sempurna dan menimbulkan rasa sakit yang hebat. Bila dipaksakan, tentu akan sangat menyiksa.
Wanita yang mengalami vaginismus merasa kecewa, bukan saja karena tidak mampu melakukan hubungan seksual, melainkan juga karena merasa tidak dapat memuaskan pasangannya. Di pihak lain, pria pasangannya juga merasa kecewa, bahkan merasa takut untuk melakukan hubungan seksual. Pada akhirnya hal tersebut dapat juga mengakibatkan disfungsi ereksi pada pasangannya.


Bagaimana mengatasinya?

Penanganan vaginismus harus dimulai dengan konseling yang mendalam, termasuk kepada suaminya. Karena itu harus ada komunikasi yang baik antara wanita yang mengalami vaginismus dengan suaminya.

Bagian terpenting dan penanganan vaginismus ialah menunjukkan kepada pasangan suami istri itu bahwa kekejangan vagina memang benar terjadi. Ini untuk menghilangkan keraguan pasangan itu tentang kekejangan yang terjadi. Karena itu penjelasan mengenai diagnosis vaginismus, yang meliputi anatomi, penyebab, dan kemungkinan sembuhnya perlu disampaikan, juga kepada suaminya.

Pada pemeriksaan, kekejangan vagina yang terjadi, diperlihatkan kepada pihak wanita sendiri dan suaminya. Tujuan lebih lanjut pemeriksaan ini ialah untuk memperkenalkan penggunaan satu seri alat yang disebut dilator dengan berbagai ukuran.

Sesuai dengan namanya, dilator ini adalah suatu alat terbuat dari bahan semacam plastik berbentuk silinder yang berfungsi untuk merelaksasi otot vagina yang mengalami kekejangan tidak normal itu.

Sebelum mulai menggunakan dilator, wanita yang mengalami vaginismus diminta melakukan latihan kontraksi dan relaksasi otot panggulnya. Wanita dengan vaginismus biasanya tidak mampu melakukan gerakan relaksasi otot panggul.

Bila sudah mampu melakukan gerakan relaksasi ototnya, dilator mulai digunakan dari ukuran terkecil (nomor 1). Dilator dibiarkan di dalam vagina sekitar 10-15 menit, dan dapat diulang sampai 3-4 kali pada siang hari, dan sekali lagi menjelang tidur. Kemudian dapat menggunakan dilator dengan ukuran yang lebih besar, dan demikian selanjutnya. Pada umumnya, wanita dengan vaginismus dapat menggunakan dilator sampai nomor 3 atau 4 dalam waktu satu minggu. Kalau dilator nomor 3 atau 4 sudah dapat digunakan dengan nyaman, pasangan itu dapat mencoba melakukan hubungan seksual dengan posisi wanita di atas.

Kalau hubungan seksual dengan posisi wanita di atas dapat dilakukan, berartj vaginismus sebenarnya sudah dapat diatasi. Selanjutnya boleh mencoba hubungan seksual dengan posisi yang lain.


Bagaimana mencegah vaginismus?

Untuk mencegah agar tidak terjadi vaginismus, perhatikanlah faktor penyebabnya. Dengan menghindari faktor penyebab, maka terhindar pula terjadinya vaginismus.

Beberapa petunjuk di bawah ini perlu diperhatikan untuk menghindari terjadinya vaginismus.

1. Pendidikan seks di dalam keluarga perlu diberikan sehingga seksualitas dapat dimengerti dengan benar dan wajar sebagai suatu bagian kehidupan dengan berbagai aspeknya.
2. Hindari pengalaman traumatik pada hubungan seksual pertama kali. Untuk mi diperlukan pengertian dan pengetahuan seksual yang benar sebelum menikah, baik bagi pria maupun wanita.
3. Membina agar kehidupan seksual dengan suami berlangsung harmonis. Jangan sampai istri tersiksa setiap kali melakukan hubungan seksual karena hanya dijadikan obyek seksual oleh suami.
4. Jagalah kesehatan kelamin agar jangan sampai terkena penyakit infeksi. Untuk ini tentu diperlukan pengertian dan kesadaran suami juga agar menjaga kesehatan kelaminnya.
5. Kesehatan kelamin tetap harus dijaga setelah melahirkan, khususnya bekas robekan harus sembuh dengan baik dan kembali normal.*

ada juga cara mengatasi dengan cara yang lain. Pengobatan diawali dengan latihan ringan pada otot persetubuhan bagian dalam. Sering pasien diajari untuk melakukan latihan-latihan Kegel, mengencangkan dan melonggarkan otot-otot tulang pinggul, dengan maksud agar otot-ototnya rileks dan untuk mengembangkan kemampuan pengendalian otot-otot yang telah menjadi kejang itu dengan baik.

Setelah belajar bagaimana merelakskan otot-otot vaginanya, dia akan diberi petunjuk bagaimana menyelipkan serangkaian alat pembesar vagina dengan ukuran yang paling kecil ke dalam vaginanya. (Alat pembesar vagina biasanya dibuat dari plastik yang kenyal dan keras yang berbentuk mirip pion permainan catur dan dibuat dalam rangkaian-rangkaian yang ditandai, dari mulai yang lebih kecil dari ibu jari hingga sebesar ukuran penis. Alat pembesar pertama dibiarkan tetap di tempat hingga kurang lebih 10 menit, kemudian diangkat. Beberapa dokter memberi pasien-pasiennya satu set alat-alat pembesar vagina yang dapat mereka gunakan di rumah beberapa kali dalam sehari dan setiap kali membiarkan alat-alat tersebut tetap di dalam vagina selama 15 hingga 30 menit dan bahkan kadang-kadang tidur dengan alat-alat itu tetap di dalam vaginanya. Dengan praktek setiap hari, dalam waktu beberapa mingggu atau bulan, ia secara bertahap beranjak ke rangkaian alat-alat pembesar yang terbesar. Dan pada akhirnya, ia diharapkan siap untuk melakukan persetubuhan dengan pasangannya. (Para ahli terapi biasanya tidak akan menganjurkan persetubuhan sebelum ia siap betul karena sebuah pengalaman yang buruk dapat membuat seluruh siklus yang tidak menyenangkan itu terjadi lagi).

Beberapa dokter menyarankan bahwa sebagai ganti penggunaan alat-alat pembesar ini, seorang wanita dapat menggunakan satu jari tangannya yang diberi pelumas, kemudian dua jari, kemudian jari-jari suaminya. Begitu suaminya dapat memasukkan kedua jarinya ke dalam vaginanya secara berlahan-lahan dia dapat melakukan persetubuhan (pertama-tama tanpa dorongan penis). Para ahli terapi lainnya menyarankan untuk memulainya dengan jari manis yang diberi pelumas atau potongan kapas yang kecil yang diberi pelumas, lalu beranjak ke sayur-sayuran yang dikupas yang berukuran sebesar penis seperti timun kecil atau wortel.

Mengatasi vaginismus bukan hanya melibatkan wanita saja -- pasangan seks si wanita juga harus benar-benar ikut dalam terapi seks ini karena mereka juga ikut menderita karena gangguan yang di alami wanita pujannya. Tidak mengherankan, beberapa suami mengalami masalah-masalah ereksi karena mereka khawatir akan melukai istri-istri mereka dengan persetubuhan itu atau karena usaha-usaha persetubuhan yang telah gagal berulang kali. Itulah sebabnya mengapa banyak ahli terapi yang ingin melibatkan kedua pasangan dalam sebuah terapi seks -- dan mengapa kesabaran, sikap yang bijak dan kelembutan (dari kedua belah pihak) begitu penting.


No comments: